AYAM UNTUK TUAN BUPATI

Cerpen Imron Supriyadi


Satu pekan lagi, Menteri Peternakan akan berkunjung di Kabupaten Batanghari Sumatera Selatan. Tujuannya untuk meresmikan Gerakan Budidaya Ayam Sehat. Menurut Zaenal, Kepala Humas Pemkab Batanghari, program ini sebagai kampaye kalau di Kabupaten Batanghari tidak ada ayam yang terserang virus Avian Influensa alias Flu Burung. Sebab, maraknya informasi flu burung telah menurunkan penghasilan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Batanghari.
”Ini sekaligus untuk menjawab keresahan di masyarakat, yang selama dalam tiga bulan terakhir, sirkulasi penjualan ayam di pasar Induk mengalami penurunan drastis. Oleh sebab itu Bapak Bupati sengaja menggelar acara ini untuk memantapkan masyarakat, kalau di Kabupaten Batanghari tidak ada ayam yang terserang flu burung,”jelas Zaenal kepada wartawan.
Dalam acara ini, Dr. Muhammadin, Bupati Batanghari tidak ingin ada sesuatu yang memalukan. Sebab tiga bulan sebelumnya, Muhammadin sudah memaparkan kepada Pak Mentri tentang perkembangan peternakan di Kabupaten Batanghari.
”...Walaupun secara nasional sedang dilanda virus flu burung, tetapi di kabupaten kami, tidak ada peternak yang mengeluh apalagi resah akibat virus flu burung. Bahkan sesuai dengan laporan Dinas Peternakan, perdagangan ayam di pasar-pasar juga tidak mengalami penurunan. Tetapi walau kondisinya demikian, kami tetap berharap agar Pak menteri dapat hadir untuk mencanangkan program Geralan Budidaya Ayam Sehat di Batanghari,”jelas Muhammadin saat menghadap Menteri Pertanian.
Sepulang dari Jakarta, Bupati kemudian mengedarkan surat perintah yang berisi pengkondisian pedagang ayam di semua pasar se-Kabupaten Batanghari.
”Dalam rangka mewujudkan Gerakan Budidaya Ayam Sehat tahun 2008, maka bersama ini kami instruksikan kepada seluruh pedagang ayam di seluruh Kabupaten Batanghari, untuk membawa semua ayam ke lokasi acara tersebut. Mengingat, pada acara tersebut akan dihadiri oleh Bapak Syamsul Paralihan, Menteri Peternakan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada hari 23 Februari 2008, di seluruh pasar ditiadakan jual beli ayam.....”demikian salah satu petikan dari sekian mata ponit isi surat edaran dari Bupati Batanghari yang ditujukan kepada seluruh pedagang ayam.
Edaran surat Bupati itu, kontan saja menimbulkan banyak tanya di kalangan pedagang ayam. Sebagian setuju. Sebagian lagi mengeluh. Sebagian lagi biasa-biasa saja.
”Kalau ayam kito dibawa ke lokasi acara Pak Bupati, berarti Pak Bupati harus bayar semua ayam kito. Kalau idak, wah kito biso ndak makan,”cetus Pendi salah satu pedagang ayam di pasar Induk.
”Bener nian Cek!. Kito harus minta ganti rugi walau hanya sehari. Sebab anak bini kito nak makan apo kalau kito ndak dagang!”sergah yang lain.
”Kalau mak itu, sore agek kito kumpulke seluruh pedanag ayam. Kito tanyoke samo pemda, siapo yang nak bayari ayam-ayam kito!”
”Oi, jangan rame-rame. Gek kito dianggep nak demo pulo! Kalau demo ndak izin samo polisi gek kito ditangkep galo,”ujar Sam khawatir. Sam memang punya pengalaman ditangkap polisi saat demo anti penggusuran pasar oleh Polisi Pamong Praja akibat tidak izin pada kepolisian. Oleh sebab itu, penahanan tiga hari tiga malam di kepolisian masih menjadi trauma bagi Sam.
”Kau ndak usah takut Sam! Kito ini banyak. Kalu kito dikit mungkin gampang dibabas bingkas samo polisi. Tapi kalau kito banyak dan nyatu, kito lawan bae. Ngapo mesti takut. Kito kan ndak salah!”tegas lainnya memberi semangat pada Sam.
”Kalau aku biarlah idak dagang sehari. Yang penting aku biso ketemu samo Pak Mentri. Aku nak salaman samo Pak Menteri, samo Bupati,”kata Pri yang pernah menjadi tim sukses Muhammadin waktu Pilkada empat tahun lalu.
Empat hari sebelum acara tiba, ratusan pedagang ayam sudah memenuhi halaman Kantor Pemkab Batanghari. Ada sekitar 20 mobil bis 2/3 yang mereka gunakan. Diantara bis ada yang di pasang spanduk bertuliskan ”Ayam kami lebih mahal dari pada kunjungan Pak Mentri”. ”Ayam kami Bukan Gratisan”. Dan masih banyak lagi spanduk terbentang dengan tulisan bernada protes.
”Saudara-saudara tidak usah khawatir. Semua ayam yang akan dibawa ke lokasi acara Pak Bupati, semua akan diganti dengan harga yang disesuaikan!”jelas wakil Bupati, didampingi Ketua DPRD dan beberapa aparat pemerintah lainnya.
”Disesuaikan itu berapa, Pak!?”teriak salah satu pedagang.
”Pak Bupati sudah berjanji. Jadi tidak usah ditanya berapa. Pak Bupati sangat mengetahui berapa harga jual ayam saat ini. Oleh sebab itu, sekali lagi semua para pedagang tidak perlu khawatir tidak mendapat uang pengganti. Pokoknya, pada hari Ha nanti, semua ayam harus dikerahkan di lokasi Gerakan Budidaya Ayam Sehat, tanpa terkecuali. Pak Bupati tidak ingin malu pada Pak Mentri. Sebab Pak Bupati sudah bicara dengan Pak Mentri, kalau di lokasi akan ada Seratus Ribu ayam”.
Hari yang dinanti-nanti Bupati tiba. Pak Mentri sudah berada di rumah dinas Bupati. Semua tikungan jalan yang akan dilalui Pak Menteri dan Bupati sudah dijaga ketat. Jalur angkutan kota dan bis dialihkan. Ini ditujukan agar perjalanan Pak Menteri dan Bupati tidak mengalami hambatan. Polisi Pamong Praja siaga penuh di beberapa pasar, guna menjaga padagang ayam yang tidak menaati aturan Pemerintah hari itu.
Sementara, ratusan pembeli hari itu sama sekali tidak mengetahui adanya pengerahan ayam ke lokasi acara Bupati dan Menteri Peternakan. Tak ada satu potong ayam pun di pasar. Ratusan pembeli mulai gelisah. Apalagi yang sedang perlu untuk melakukan acara pernikahan dan syukuran kelahiran anaknya.
”Pak, kenapa hari ini tidak ada pedagang ayam yang berjualan?”tanya Surti, salah satu pembeli kepada aparat Dinas Pasar.
”Wah, ibu ini apa tidak tahu. Hari ini semua ayam dikerahkan di tempat acara Pak Bupati. Di sana juga ada Menteri Peternakan, Bu. Makanya baca koran, Bu,”jawab aparat tanpa beban.
”Saya ini tanya soal ayam! Malah nyuruh baca koran! Jadi kalau kita mau membeli ayam bagaimana, Pak?”
”Hari ini tidak ada jual beli ayam. Besok saja, Bu,”jawab aparat.
”Butuhnya kan sekarang, bukan besok. Bapak ini bagaimana?!”sergahnya kesal.
”Bu, kalau ibu mau ayam hari ini, ambil saja ayam di tempat acara Pak Bupati. Itu kalau ibu berani,”ujar aparat lagi.
”Kami semua ini butuh ayam! Siapa tidak berani datang ke tempat Pak Bupati?!”
”Eee..jangan ke sana Bu. Nanti kami yang kena semprot!”aparat ketakutan.
Tapi larangan aparat tak juga diindahkan. Mereka kemudian konvoi menuju lokasi acara. Walau harus menempuh perjalanan satu jam, ratusan pembeli terpaksa menyewa mobil untuk mendatangi Bupati untuk membeli ayam. Sebuah barisan panjang menyusuri jalan protokol dan perdusunan di Kabupaten Batanghari. Ada sekitar 10 sampai 15 bis 2/3 yang sengaja disewa untuk mendatangi lokasi pencanangan Gerakan Budidaya Ayam Sehat.
”Pokoknya hari ini aku harus dapat ayam. Kalau tidak, acara pernikahan besok bisa kacau,”ujar salah satu pembeli yang sejak berangkat sudah kesal.
”Aku jugo!”tambah lainnya lagi.
Tiba di lokasi, acara sudah selesai. Pedagang ayam dan para tamu sudah bubar. Tak ada satu ayam pun di lokasi. Ratusan pembeli ayam makin kesal.
”Bu, ayamnya sudah dibeli sama Pak Bupati semua. Jadi hari ini tidak ada ayam yang dijual untuk masyarakat,”kata salah satu aparat menjelaskan kepada pembeli.
”Masak sih Bupati mau makan puluhan ribu ayam. Saya hanya butuh 10 ekor,”ujar yang lain.
”Saya 5 ekor!”
”Saya 2 ekor!”
”Anak saya besok mau menikah. Jadi saya hari ini harus membeli 100 ekor ayam!”
”Bu, tadi kan sudah saya katakan. Semua ayam sudah dibeli sama Pak Bupati. Jadi silakan ibu minta sama Pak Bupati saja, kalau berani!”
”Hei! Jangan nantang ya. Jangankan Bupati, Gubernur pun saya lawan. Saya ini sekarang sedang butuh. Jangan gara-gara acara dagelan seperti ini, kemudian menelantarkan rakyat kecil. Bupati itu ada karena ada rakyat seperti kami, ngerti?!”
”Sekarang kita ke rumah Bupati saja. Saya harus dapat ayam hari ini!”
Ajakan itu spontan saja diikuti ratusan pembeli yang lain. Sementara para pedagang ayam tengah menunggu uang ganti dari Bupati. Termasuk pedagang ayam yang tidak hadir, semua datang ke rumah Bupati guna menagih janji Bupati.
Seiring dengan itu, para pedagang ayam menyaksikan langsung penobatan Muhammadin, Bupati Batanghari sebagai Bapak Budidaya Ayam Sehat Indonesia. Tepuk riuh pun menyeruak di halaman kediaman Bupati. Sebuah plakat diserahkan oleh Pak Menteri kepada Bupati. Wartawan jeprat-jepret mengabadikan foto Bupati dan Pak Menteri. Usai penyerahan, Pak menteri langsung terbang ke Jakarta. Sementara, di tengah riuh redamnya kegirangan para pejabat Pemkab Batanghari, ratusan pedagang ayam masih harap-harap cemas menunggu uang ganti dari Bupati.
Belum sempat ada penyerahan uang pengganti ayam, ratusan pembeli sudah merangsek ke rumah dinas Bupati. Halaman rumah dinas Bupati berubah menjadi pasar ayam. Ratusan pembeli sudah bersiap-siap mengeluarkan uang untuk membeli ayam.
”Pak, Bu, maaf nian. Hari ini semua ayam kami sudah dibeli sama Pak Bupati. Jadi ndak biso nian kalau ibu nak beli sekarang,”jelas pedagang kepada pembeli.
”Saudara-saudara, sebelumnya minta maaf. Penggantian uang ayam bapak dan Ibu tidak bisa dilakukan hari ini, tetapi.....,”kalimat itu terputus, ketika ratusan pedagang berteriak ”Uuuuuuuuuuuuuh. Bupati pembohong!”
”Bukan pembohong, tetapi hanya soal waktu saja,”jelas aparat Pemkab.
Masa yang sudah panas tak bisa di bendung. Aparat kuwalahan. Ratusan pedagang, pembeli ayam sempat saling dorong dengan aparat. Salah satu diantara mereka memberanikan diri melempar ayam ke dalam rumah dinas Bupati. Lemparan pun disusul oleh pedagang ayam lainnya. Ayam-ayam pun beterbangan. Sampai akhirnya Bupati keluar. Tetapi lemparan ayam tak juga berhenti. Puluhan aparat mencoba menghindarkan ayam dari tubuh Bupati. Tetapi karena terlalu banyak, tak sanggup juga mengatasi ayam-ayam yang terus beterbangan ke arah Bupati. Ratusan ribu ayam akhirnya membenamkan tubuh Bupati. Hingga aku dan pedagang lainnya sulit membedakan antara ayam dan Bupati.(*)

Tanjung Enim, 17 Juni 2007 - Februari 2008